Dalam wacana percepatan transisi energi dari energi yang bersumberkan bahan bakar fosil menuju energi yang lebih bersih, yaitu energi baru dan terbarukan (EBT), informasi spesifik mengenai potensi EBT di setiap wilayah menjadi sangat penting. Informasi tersebut berguna sebagai data awal ketika mengadakan kajian (penelitian) ataupun proyek-proyek yang berkenaan dengan diversifikasi pembangkit tenaga berbasis EBT. Dengan demikian, para peneliti dan praktisi dapat dengan mudah menentukan EBT apa saja yang berpeluang didayagunakan serta dikembangkan lebih lanjut. Tak hanya sebatas itu, hal ini juga akan menghemat waktu dan biaya selama kegiatan pengumpulan data berlangsung.
Antara ESDM One Map dan kemudahan akses terhadap informasi potensi EBT
ESDM One Map merupakan satu dari sekian upaya pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) dalam mempercepat transisi energi di Indonesia. ESDM One Map menyediakan informasi-informasi terkait sektor ESDM lokal dalam bentuk web peta tematik (webGIS) yang bisa diakses oleh publik secara daring. Salah satu peta yang disajikan di aplikasi berbasis web tersebut adalah peta mengenai EBT dan konservasi energi di Indonesia.
Pada aplikasi ini, publik berkesempatan melihat secara jelas peta potensi EBTโenergi surya, air, arus laut, dan lain sebagainyaโyang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari ujung barat sampai dengan ujung timur. Dengan begitu, setiap orang memiliki akses yang sama terhadap suatu informasi, dalam hal ini berhubungan dengan EBT. Boleh dikatakan, inilah yang dinamakan dengan โkesetaraan informasiโ itu.
Jika informasi spesifik tentang potensi EBT dapat dengan mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat, maka tak menutup kemungkinan akan semakin banyak terobosan-terobosan terbaru dalam proyeksi diversifikasi pendayagunaan EBT di masing-masing daerah. Boleh jadi, semangat transisi energi justru muncul dari komunitas dan kelompok masyarakat yang jarang atau bahkan hampir tidak pernah diajak dalam diskursus terkini. Lebih-lebih lagi, bisa saja potensi terbesarnya terletak di daerah-daerah mereka.
Sementara itu, aplikasi iniโESDM One Mapโbukan hanya menyelesaikan masalah kemudahan akses informasi saja, melainkan data-data yang disediakan pun juga akurat dan mutakhir. Meski begitu, potensi tersebut tinggal sekadar potensi bila tidak ada implementasi yang serius. Walhasil, pertanyaan yang mesti kita ajukan untuk keadaan ini ialah bukan lagi soal besaran potensi EBT yang dimiliki Indonesia, akan tetapi lebih kepada pertanyaan yang berhubungan dengan progres peningkatan fraksi EBT di dalam bauran energi nasional. Jadi, sudah sejauh mana sih energi bersih ini didayagunakan? Apa betul kita memang bertekad melakukan transisi energi?
Implikasi informasi potensi EBT dalam percepatan transisi energi di Indonesia
Dengan adanya aplikasi berbasis web peta tematik seperti ESDM One Map, seharusnya kita mampu memetakan arah perkembangan EBT di seluruh wilayah Indonesia dengan gamblang. Sekarang, silakan perhatikan gambaran sederhana berikut ini guna melihat bagaimana keterlibatan informasi potensi EBT dalam percepatan transisi energi di Indonesia. Contohnya adalah potensi EBT di Provinsi Sumatera Utara.
Berdasarkan hasil pencarian di aplikasi tersebut, diketahui bahwa provinsi ini memiliki sumber EBT yang bervariasi, mulai dari matahari, biomassa, panas bumi, hingga beberapa sumber EBT lainnya. Danau Toba sendiri memiliki potensi EBT yang sangat besar, yakni mencapai 5.705,47 MW (kurang lebih 5,7 GW) bilamana didayagunakan sebagai lahan pembangkit listrik tenaga surya-apung (PLTS-apung). Besar sekali, bukan? Itu baru di satu lokasi dan satu jenis EBT saja. Lalu, bagaimana jika seluruh potensi EBT di wilayah ini dikombinasikan? Kira-kira, seberapa besar potensinya?
Namun demikian, proses transisi energi pada kenyataannya tak sesederhana seperti apa yang dicontohkan di atas. Dalam praktiknya, kita masih menjumpai beberapa kendala ketika transisi energi ini dilakukan, dua di antaranya terkait dengan masalah teknis dan pembiayaan. Hal tersebut berimbas kepada peningkatan bauran EBT yang hanya mampu menyentuh angka 13,09% di tahun 2023 kemarin, sedangkan pemerintah Indonesia mempunyai target sebesar 17,87% di tahun tersebut.
Di sisi lain, ada pula dua aspek tambahan yang tidak boleh luput dari analisis kita, yaitu dampak lingkungan dan sosial-ekonomi yang disebabkan saat membangun instalasi pembangkit tenaga berbasis EBT. Hal ini setidaknya menyangkut persoalan aktivitas deforestasi saat pembukaan lahan baru, konflik agraria yang mungkin timbul, jumlah lapangan kerja (green jobs) yang diciptakan, dan sebagainya. Harapannya, jangan sampai EBT yang dikampanyekan sebagai solusi jitu atas isu perubahan iklim malah menguntungkan pihak tertentu dan merugikan pihak yang rentan.
Antara potensi EBT dan sumber daya manusia
Berbicara tentang potensi EBT, maka kurang lengkap rasanya apabila tidak membahas potensi sumber daya manusia (SDM) yang ada. Peta potensi EBT yang disediakan Kementerian ESDM secara cuma-cuma melalui ESDM One Map itu, hanya akan menjadi data belaka jika tidak diiringi dengan SDM yang andal serta berkualitas. Misalnya teknologinya sudah impor, masa, tenaga ahli dan operasionalnya pun hendak impor pula?
Untuk itu, peningkatan bauran EBT mestinya sejalan dengan peningkatan kualitas SDM-nya. Jika tidak, masyarakat lokal cuma bisa jadi penonton di balik layar kaca โtransisi energiโ, alih-alih menjadi MVP (most valuable player) di negeri sendiri. Kalau begitu, lantas apanya yang mau disebut dengan โIndonesia Emas 2045โ? Bukankah kita sangat membanggakan hal tersebut?
Untungnya, telah banyak perguruan tinggi yang mengadakan program studi (jurusan) dan mata kuliah tentang EBT. Lebih dari itu, Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia juga menyiapkan pelatihan kerja terkait PLTS secara gratis. Kabar baik ini menjadi angin segar dalam mempercepat transisi energi di Indonesia, apalagi dalam menyambut bonus demografi yang kita bangga-banggakan itu.
Kemudian, pelatihan kerja serupa itu bisa dikembangkan lebih lanjut sesuai potensi EBT yang ada di masing-masing daerah. Hasilnya, peta potensi EBT keluaran Kementerian ESDM itu, bukan lagi digunakan sekadar sebagai petunjuk letak sebaran dan besaran potensi EBT, melainkan sebagai penuntun percepatan transisi energi di Indonesia. Di sinilah momen yang tepat untuk memberikan ruang seluas-luasnya kepada masyarakat lokal sehingga dapat turut andil dalam memitigasi dampak perubahan iklim.
Tentang Penulis
Arief Rizqy, seorang mahasiswa pascasarjana teknik mesin di salah satu universitas yang ada di Indonesia. Ia menaruh minat yang besar dalam hal konversi energi, perpindahan panas, termodinamika, dan energi baru dan terbarukan (EBT). Harapannya untuk perkembangan EBT di Indonesia ialah tentang peningkatan pendayagunaan EBT yang mengedepankan andil masyarakat lokal.