Pendayagunaan Energi Surya: Tak Sebatas Produksi Listrik ☀️

Guest Contributors
Kunjungan

Bagi sejumlah orang, listrik barangkali sudah dianggap sebagai kebutuhan primer. Energi ini dapat digunakan untuk keperluan apa saja, yang penting dompet tak boleh kosong saat alarm token listrik berbunyi 💸. Kira-kira, bagaimana jadinya jika listrik tiba-tiba menghilang dari zaman modern seperti sekarang ini? Kalau begitu adanya, maka esai ini mungkin akan ditulis di lembaran daun lontar 📜. Dari sekian banyak bentuk energi, listrik memang menjadi si “nomor satu” dalam hal keluwesan ⚡.

Haruskah selalu mengandalkan listrik? 🤔

Terlepas dari keluwesannya, diperlukan usaha ekstra agar listrik bisa sampai di tangan pengguna, mulai dari proses produksi hingga distribusi. Sayangnya, semua tahapan ini cukup ribet dan pastinya tidak gratis, baik yang bersumber dari energi terbarukan maupun yang tidak. Lebih lanjut, terdapat juga potensi dampak negatif bilamana produksinya masih bertumpu pada bahan bakar fosil 🌍.

Dalam beberapa kasus, menggunakan alternatif yang lebih simpel, murah, dan ramah lingkungan tentu sangat masuk akal 💡. Sebetulnya, ada banyak kebutuhan yang bisa dipenuhi secara langsung tanpa harus melewati jalan panjang pemroduksian listrik.

Sebagai contoh, ketimbang membicarakan industri besar, menyoroti kelompok masyarakat terdekat terasa lebih relevan, terutama mereka yang memiliki sumber daya terbatas seperti halnya petani kecil 👨‍🌾. Andaikan tidak terkendala biaya, para petani mungkin akan memilih pengering elektrik untuk mengolah hasil panennya, alih-alih menggunakan cara tradisional. Walhasil, teknologi alternatif semestinya punya tempat di keseharian masyarakat, misalnya pengering tenaga surya 🌞. Dengan harga yang terjangkau serta tidak merusak lingkungan hidup, bukankah sudah waktunya teknologi semacam ini mengambil peran penting di berbagai sektor?

Berkenaan dengan teknologi tersebut, kurang afdal rasanya jika tidak menengok penerapan konkretnya. Mahmoud S. El-Sebaey, seorang peneliti dari Menoufia University, Mesir, mengajukan pendekatan baru dalam proses pengeringan buah anggur 🍇 melalui artikelnya yang berjudul Proposing novel approach for indirect solar dryer integrated with active-fan and passive-chimney: An experimental and analytical investigation (2024). Menurutnya, selain mencegah produk terkena kontaminan seperti debu dan polusi, pengering tenaga surya yang ia ajukan juga mampu mempercepat proses pengeringan, berbeda dengan pengeringan langsung di bawah sinar matahari.

Di luar keunggulan teknisnya, dari segi keekonomian pun pendekatan Mahmoud ini tentunya tak boleh diremehkan. Melalui pengering yang diusulkannya, masyarakat dapat menghemat biaya sekitar $3 untuk setiap kilogram anggur kering 💰. Sementara itu, potensi pengurangan emisi karbonnya diperkirakan dapat mencapai 337,18 kg/tahun 🌱. Artinya, teknologi ini tak hanya ramah di kantong, tetapi ramah pula terhadap lingkungan. Dengan semua nilai plus ini, sungguh disayangkan bila nasib penemuan brilian ini sekadar berakhir di atas kertas, terutama di tengah situasi global yang katanya sedang repot-repot mencari solusi berkelanjutan 🌏.

Dalam konteks lokal, pengering tenaga surya berpeluang besar untuk memainkan peran secara sektoral dan masif, mengingat Indonesia adalah negara agraris sekaligus maritim 🌾🌊, belum lagi letak astronomisnya yang menguntungkan. Di sektor perkebunan, misalnya, Indonesia punya biji kopi sebagai produk ekspor ☕. Kalau di sektor kelautan, dari ikan teri sampai udang rebon, semuanya ada 🦐. Lebih dari itu, teknologi surya tak hanya terbatas di kedua sektor tadi. Tergantung kebutuhan, pendayagunaan energi surya bahkan bisa jauh lebih beragam.

Opsi Lain dari Sel Surya 🔄

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, sel surya atau perangkat fotovoltaik memang bukan satu-satunya teknologi energi surya. Walaupun terdapat banyak pilihan, entah mengapa justru hanya sel surya yang merangkak ke puncak popularitas 🌟. Selain konversi fotovoltaik, ada cara lain agar energi surya bisa dimanfaatkan dengan efisien, yakni konversi termal. Tidak seperti konversi fotovoltaik yang monomorf, metode konversi energi ini malah menawarkan beragam kegunaan tanpa proses yang berbelit. Hasilnya, manfaat energi surya bisa langsung dirasakan dengan cara yang lebih sederhana dan murah 🎯.

Melalui konversi termal seperti yang diaplikasikan pada kolektor surya, energi surya dapat mendukung berbagai aktivitas produksi yang membutuhkan energi panas 🔥. Contoh praktisnya adalah pengering tenaga surya yang sempat disinggung di subbab pertama. Di samping itu, kolektor surya juga dapat diterapkan sebagai pemanas air dan ruangan 🚿, bahkan sudah digunakan dalam proses desalinasi guna menyelesaikan isu krisis air bersih 🚰. Lebih jauh lagi, air tawar tersebut berpotensi dijadikan bahan bakar hidrogen untuk transportasi ramah lingkungan 🚗⚡. Dengan semua kepraktisannya, lantas apa yang menyebabkan kolektor surya tidak mendapatkan perhatian lebih?

Mengisi Ruang Kosong: Kolaborasi sebagai Aksi Nyata 🤝

Berdasarkan publikasi Pusat Data dan Teknologi Informasi Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian ESDM Republik Indonesia, dengan judul Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2023 (2024), diketahui bahwa pemanas air tenaga surya (solar water heater) telah memperlihatkan perannya. Tercatat, teknologi energi terbarukan ini memberikan andil sebesar 0,10% (selama tahun 2023) dalam suplai energi primer di Indonesia, sedangkan tahun sebelumnya hanya 0,05% 📈. Jika teknologi semacam ini—pengering, pemanas, dan distilator berbasis energi termal surya—benar-benar diadopsi secara merata di seluruh wilayah, maka bukan hal yang mustahil bagi energi terbarukan mendominasi sumber energi nasional sehingga mendorong percepatan transisi energi ⚡🔄.

Kolaborasi antara pemerintah dan akademisi untuk pembinaan (sosialisasi) dan pendanaan terkait implementasi teknologi energi surya kepada masyarakat luas sesuai keperluannya dapat meningkatkan penggunaan energi terbarukan dengan lebih terfokus. Upaya ini akan mereduksi konsumsi listrik berbasis bahan bakar fosil serta meningkatkan persentase bauran energi terbarukan, kendati tak bisa menggantikan peranannya secara utuh 🔋.

Dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan, sudah saatnya energi surya dimanfaatkan lebih luas, tidak hanya untuk listrik, tetapi juga untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Teknologi ada, sumber daya melimpah—tinggal bagaimana kita mengambil langkah nyata menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan 💚🌱.


Tentang Penulis

Arief Rizqy merupakan mahasiswa pascasarjana teknik mesin di salah satu universitas nasional. Ia sangat tertarik pada ilmu konversi energi, perpindahan panas, termodinamika, dan energi terbarukan. Harapannya, masyarakat lokal mestinya diberi kesempatan lebih besar untuk berperan aktif dalam menyukseskan agenda transisi energi di Indonesia.

Bagikan halaman ini
Sumber terkait

Berita Terkait

PLTSa Galuga: Transformasi Tumpukan Sampah Menjadi Sumber Energi Terbarukan Bogor Raya Masalah sampah yang selama ini menjadi momok bagi kawasan padat penduduk seperti Bogor Raya kini mulai menemukan jalan keluar strategis. Melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, tumpukan limbah yang dulunya hanya dianggap beban lingkungan kini disulap menjadi sumber energi baru terbarukan. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Sumber Foto: Liputan6.com/Achmad S) Proyek yang menjadi hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bogor dan Pemerintah...
Supriyanto
Pernahkah kamu berpikir, limbah pertanian seperti jerami atau potongan kayu bisa diubah menjadi energi? Proses ini dikenal sebagai pirolisis, yaitu teknik memanaskan bahan organik (biomassa) tanpa oksigen sehingga menghasilkan gas, cairan, dan padatan. Dengan kata lain, sampah organik bisa “disulap” menjadi bahan bakar! 1. Mengapa Pirolisis Biomassa? Kebutuhan energi dunia terus meningkat, sementara cadangan energi fosil semakin menipis dan dampaknya terhadap lingkungan semakin serius. Di tengah tantangan ini, perhatian para ilmuwan beralih ke sumber energi terbarukan seperti biomassa. Biomassa adalah bahan organik yang berasal dari tumbuhan atau hewan, seperti limbah pertanian, kayu, atau sisa makanan. Salah satu metode yang menjanjikan...
Dwita Rahayu Safitri
Industri manufaktur di Indonesia menghadapi tantangan besar dalam hal konsumsi energi yang tinggi dan biaya listrik yang terus meningkat. Pabrik-pabrik besar yang beroperasi selama 24 jam memerlukan sumber energi yang andal, efisien, dan hemat biaya agar tetap kompetitif di pasar global. Dalam hal ini, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap energi fosil serta meningkatkan efisiensi operasional. Dampak Penggunaan Energi Fosil terhadap Industri dan Lingkungan Sektor energi, khususnya pembakaran batu bara, merupakan salah satu penyumbang besar emisi karbon di Indonesia. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada tahun 2015 emisi...

Halo! Melalui REI, kamu bisa belajar, akselerasi karir, dan temukan talenta terbaik di energi terbarukan⚡

Yuk, pilih yang ingin kamu dalami 👇