Jakarta, 21 Januari 2026 – Dalam rangka mendukung pencapaian target Net-Zero Emission 2060 dan percepatan transisi energi nasional, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Swiss kembali mempertegas komitmen bersama dalam pengembangan sumber daya manusia sektor energi terbarukan melalui peluncuran Renewable Energy Skills Development (RESD) Fase 2.

Peluncuran program kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang ditandatangani antara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM) dan Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO) pada 2 Oktober 2025, yang disaksikan langsung oleh Wakil Presiden Swiss & Federal Councillor Guy Parmelin, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot, dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie.

Keberhasilan Fase 1: Fondasi yang Kokoh
Proyek RESD Fase 2 (Oktober 2025 – Desember 2028) dibangun di atas kesuksesan Fase 1 yang berlangsung sejak Desember 2020 hingga Juli 2025. Selama fase pertama, program ini telah memberikan dampak signifikan bagi penguatan ekosistem pendidikan vokasi energi terbarukan di Indonesia, di antaranya mencetak 450 lulusan Sarjana Terapan Teknik spesialisasi energi terbarukan, penyelenggaraan pelatihan gratis bagi masyarakat di 9 provinsi Indonesia hingga menghasilkan 386 lulusan Teknisi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), meningkatkan kapasitas 214 dosen dan instruktur di 10 politeknik dan balai latihan, membangun lebih dari 100 kolaborasi strategis dengan mitra industri, dan mencapai tingkat serapan kerja lulusan politeknik sebesar 80%.
Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder pada acara peluncuran di Hotel Mandarin Oriental Jakarta menyampaikan bahwa Swiss dan Indonesia memiliki keyakinan yang sama bahwa tenaga kerja yang terampil dan siap kerja merupakan fondasi penting transisi energi.
“RESD mengatasi kesenjangan akan kebutuhan tenaga profesional terampil di bidang energi terbarukan. Pemerintah Swiss tidak hanya berbagi keahlian, tetapi juga berinvestasi bersama dalam modal manusia yang diperlukan dalam transisi menuju Net Zero Emission 2060,” ujarnya.
Kepala BPSDM ESDM, Prahoro Nurtjahyo, menegaskan bahwa transisi energi membutuhkan kesiapan SDM yang kuat dan berkelanjutan. “Melalui RESD Fase 2, kita membangun ekosistem pengembangan sumber daya manusia dan kolaborasi yang menyelaraskan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri. Kolaborasi ini diharapkan melahirkan talenta energi terbarukan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap memimpin perubahan,” jelasnya.
Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder, menyampaikan bahwa Swiss dan Indonesia memiliki keyakinan yang sama bahwa tenaga kerja yang terampil dan siap kerja merupakan fondasi penting transisi energi.
“Melalui dukungan SECO, RESD menjadi wujud investasi bersama dalam pengembangan SDM energi terbarukan, tidak hanya melalui transfer keahlian, tetapi juga penguatan kapasitas kelembagaan secara berkelanjutan. Kemitraan ini mendukung upaya Indonesia mencapai target Net-Zero Emission 2060 secara inklusif,” ujarnya.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Khairul Munadi, menekankan pentingnya penguatan SDM dalam mendukung transisi energi nasional. “RESD tidak hanya berfokus pada pengembangan kurikulum, tetapi juga membangun sistem pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri, termasuk integrasi pendidikan formal dan non-formal dalam pengembangan green skills. Melalui RESD, kami menegaskan komitmen untuk terus memperkuat peran pendidikan vokasi sebagai pilar utama pembangunan SDM transisi energi, mendorong kemitraan strategis antara kampus, industri, dan mitra internasional, serta menjadikan program ini sebagai referensi praktik baik nasional yang dapat direplikasi,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas, Kementerian Ketenagakerjaan, Darmawansyah, yang diwakili oleh Direktur Bina Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan, Muhammad Ali, menyampaikan bahwa RESD menjawab tantangan penurunan emisi karbon sekaligus peningkatan kompetensi tenaga kerja.
“Oleh karena itu, di luar jalur pendidikan formal, program ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kompetensi melalui pelatihan vokasi. Kami melihat RESD sebagai respons nyata terhadap kebutuhan peningkatan keterampilan, sekaligus peluang bagi peserta untuk memasuki dunia kerja, khususnya di sektor energi terbarukan,” ungkapnya.
Fokus dan Cakupan RESD Fase 2
Selama 3,5 tahun ke depan, RESD Fase 2 akan memperluas jangkauan ke 19 politeknik dan lembaga pelatihan di bawah naungan Kementerian ESDM, Kemdiktisaintek, dan Kemnaker yang tersebar di 15 provinsi.
Beberapa poin utama pengembangan di Fase 2 meliputi:
- Ekspansi teknologi: Selain PLTS dan PLTA/PLTMH, penambahan fokus pada teknologi penyimpanan energi baterai (battery storage).
- Kemitraan industri: Penguatan kurikulum berbasis industri yang sesuai kebutuhan industri energi terbarukan.
- Infrastruktur modern: Penyediaan fasilitas laboratorium berstandar industri.
- Inklusivitas: Pengarusutamaan kesetaraan gender dalam akses pendidikan dan karier di sektor energi terbarukan.
Dukungan Pemerintah Swiss mencakup pengembangan kurikulum dan materi pembelajaran, pelatihan bagi dosen dan instruktur oleh tenaga ahli Swiss, penyediaan fasilitas pembelajaran berstandar industri, dan promosi kesetaraan gender dalam energi terbarukan.
Melalui pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan keterlibatan industri, RESD Fase 2 bertujuan meningkatkan kesiapan kerja lulusan untuk terjun langsung ke sektor energi terbarukan demi mendukung keberhasilan program transisi energi nasional.
Kemitraan Indonesia dan Swiss ini diharapkan dapat terus menghasilkan tenaga kerja yang kompeten untuk mendukung pencapaian target bauran energi terbarukan serta Net-Zero Emission 2060, sekaligus memperkuat hubungan bilateral kedua negara di bidang pembangunan berkelanjutan.