ESDM: Pencampuran Bioetanol dengan Bensin akan Dilakukan pada Pertamax

Economy

bioetanol, pertamax, bensin, bbm

ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI/FOC. Petugas mengisi BBM jenis Pertamax di Pertashop (Pertamina Shop) Desa Mambalan, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Minggu (28/3/2021).

 

Pemerintah berencana untuk segera melakukan uji coba distribusi bahan bakar nabati (BBN) bioetanol 5% atau E5 sebagai campuran bensin pada pertengahan tahun ini. Kementerian ESDM mengungkapkan uji coba akan dilakukan dengan Pertamax.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menjelaskan bahwa bioetanol bisa menjadi bahan campuran bagi seluruh bahan bakar jenis bensin seperti Pertalite, Pertamax hingga Pertamax Turbo.

Namun pemerintah mengerucutkan sasaran uji coba campuran bioetanol dengan Pertamax. Dadan mengatakan bahwa pencampuran dengan Pertamax lebih ekonomis dibandingkan dengan Pertalite. Pasalnya harga Pertamax dan bioetanol relatif sama, yakni di kisaran Rp 12.000-13.000 per liter.

Sehingga, implementasinya dinilai bisa menciptakan stabilitas harga yang lebih ekonomis saat kebijakan ini diterapkan secara luas. “Sekarang kami melihatnya ke Pertamax supaya implementasinya lebih cepat,” kata Dadan saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM pada Senin (20/2).

Sedangkan, lanjut Dadan, pencampuran E5 pada Pertalite yang merupakan BBM Khusus Penugasan (JBKP) atau BBM bersubsidi, berpotensi memunculkan selisih harga yang harus dibayarkan pemerintah.

Selisih ini timbul dari harga jual Pertalite yang berada di angka Rp 10 ribu per liter. “Kalau dicampur Pertalite nanti akan ada komponen harga tambahan yang harus dicari cara penyelesaiannya,” kata Dadan.

Sebelumnya Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa uji coba penyaluran perdana bioetanol E5 akan dilangsungkan di SPBU khusus di Surabaya. Pemilihan Kota Pahlawan dilatarbelakangi oleh lokasinya yang dekat dengan produsen bahan baku bioetanol di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Malang.

Erick menjelaskan bahwa distribusi bioetanol membutuhkan proses logistik yang lebih kompleks daripada bahan bakar minyak atau BBM. Sifat bioetanol yang cepat busuk karena terbuat dari material tumbuh-tumbuhan mewajibkan penyalurannya harus dekat dan terjangkau dari lokasi pabrik.

“Bahan bakar ini tidak bisa terlalu jauh pom bensinnya atau lokasi pengisiannya karena itu bisa busuk,” kata Erick dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR pada Senin (13/2).

Dia menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan uji coba kebijakan intervensi bahan bakar ini bisa berjalan pada semester I tahun ini. “Uji cobanya nanti di Surabaya sekira 3 atau 4 bulan lagi,” ujar Erick.

Adapun produksi bioetanol domestik berasal dari tiga pabrik. Diantaranya dua pabrik di wilayah Jawa Timur, yakni PT Energi Agro Nusantara (Enero) di Kabupaten Mojokerto dengan 30.000 kilo liter (kl), PT Molindo Raya Industrial di Kabupaten Malang dengan 10.000 kl, dan 3.600 kl dari PT Madu Baru di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Pemerintah sebelumnya pernah berencana untuk menerapkan E5 pada BBM Pertalite, namun program tersebut ditunda karena perubahan status Pertalite menjadi BBM bersubsidi.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “ESDM: Pencampuran Bioetanol dengan Bensin akan Dilakukan pada Pertamax” , https://katadata.co.id/happyfajrian/ekonomi-hijau/63f32bc01e841/esdm-pencampuran-bioetanol-dengan-bensin-akan-dilakukan-pada-pertamax
Penulis: Muhamad Fajar Riyandanu
Editor: Happy Fajrian

Bagikan halaman ini

Berita Terkait

Youtube : Undecided with Matt Ferrel
Why China Built the World’s Largest Air Battery Lithium-ion batteries are great for about 4 hours of storage. After that, the price stops making sense. So China built an alternative out of thin air: the world’s largest compressed air battery, a salt cavern energy storage system with no lithium and no fuel burned to get the power back out. The pitch is that it beats lithium at long-duration energy storage. But run the math on how long it actually lasts, and the answer comes out to 4 hours too, exactly where lithium already wins. So is China’s giant air battery...
Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Swiss merampungkan rangkaian serah terima hibah peralatan Laboratorium Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kepada tujuh institusi pendidikan dan pelatihan vokasi melalui Proyek Renewable Energy Skills Development (RESD). Proyek yang merupakan bentuk kerja sama antara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM) dengan Swiss State Secretariat for Economic Affairs SECO, serta melibatkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan Kementerian Ketenagakerjaan ini, kini menjangkau 10 politeknik dan 8 BPVP di seluruh Indonesia pada Fase II yang berjalan sejak Oktober 2025 hingga akhir 2028. Rangkaian serah terima peralatan laboratorium PLTS dimulai pada 13...
Jakarta, 21 Januari 2026 – Dalam rangka mendukung pencapaian target Net-Zero Emission 2060 dan percepatan transisi energi nasional, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Swiss kembali mempertegas komitmen bersama dalam pengembangan sumber daya manusia sektor energi terbarukan melalui peluncuran Renewable Energy Skills Development (RESD) Fase 2. Peluncuran program kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang ditandatangani antara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM) dan Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO) pada 2 Oktober 2025, yang disaksikan langsung oleh Wakil Presiden Swiss & Federal Councillor Guy Parmelin, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral...

Halo! Melalui REI, kamu bisa belajar, akselerasi karir, dan temukan talenta terbaik di energi terbarukan⚡

Yuk, pilih yang ingin kamu dalami 👇