Energi Termal Laut : Permata Tersembunyi di Lautan Indonesia

Guest Contributors
Kunjungan

Lautan sejatinya tak sekadar soal keindahannya melulu, tetapi jauh lebih berarti daripada itu. Selain menjadi sumber kehidupan bagi manusia dan biota laut, lautan juga menyimpan potensi energi bersih, misalnya energi termal laut. Dengan demikian, sebagai negara kepulauan, Indonesia sudah barang tentu tak boleh menyia-nyiakan “tiketnya” kalau tidak mau ketinggalan momen “berlayar”.

 

Selayang pandang tentang energi termal laut

Konversi energi termal laut, yang lebih dikenal dengan sebutan ocean thermal energy conversion (OTEC), merupakan sebuah metode pemroduksian energi listrik secara berkelanjutan dengan sumber energi utama berupa energi termal yang tersedia di lautan. Prinsip kerjanya hampir-hampir mirip dengan sistem pembangkit listrik tenaga uap. Namun, yang membuatnya berbeda adalah pemerolehan sumber energinya: OTEC memanfaatkan perbedaan temperatur antara air laut permukaan (hangat) dengan air laut dalam (dingin), sementara mesin uap konvensional menggunakan batu bara (berdasarkan proses pembakaran). Begitulah kira-kira penjelasan singkat dari ulasan Lazaros Aresti, Paul Christodoulides, Constantine Michailides, dan Toula Onoufriou dalam artikel bertajuk Reviewing the energy, environment, and economy prospects of Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) systems (2023).

Diagram sederhana dari sistem konversi energi OTEC siklus terbuka.

Sumber: https://www.eia.gov/energyexplained/hydropower/ocean-thermal-energy-conversion.php

Melalui artikel tersebut, para peneliti mengungkapkan bahwa masukan energi termal pada sistem OTEC berasal dari energi matahari yang terakumulasi di permukaan laut. Walhasil, daerah tropis (perairan khatulistiwa) diyakini sangat strategis untuk pengoperasian teknologi energi bersih ini. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Seberapa besar sih potensi energi termal laut yang dimilikinya? Apakah tidak terlalu berlebihan jika menganggap energi terbarukan ini sebagai permata yang tersembunyi di lautannya yang luas itu?

 

Menimbang Potensi OTEC di Indonesia

Berkaca pada studi literatur Lazaros dkk., Indonesia mesti percaya diri dengan peluang pengaplikasian OTEC di wilayahnya, mengingat posisi astronomisnya yang berada di garis khatulistiwa. Hasil kajian Jannis Langer dan Kornelis Blok dalam artikel The global techno-economic potential of floating, closed-cycle ocean thermal energy conversion (2024) menunjukkan bahwa secara teknis, Indonesia memiliki potensi total OTEC terbesar di dunia. Dengan memanfaatkan area lautan seluas 1.357 x 103 km2 (22% dari keseluruhan luas lautan), potensinya tercatat mampu mencapai 14.119 TWh/tahun. Capaian ini melebihi 20 negara dengan potensi besar lainnya, seperti Papua Nugini (8.980 TWh/tahun), India (7.437 TWh/tahun), Fiji (6.382 TWh/tahun), Brasil (5.142 TWh/tahun), Filipina (4.208 TWh/tahun), dan seterusnya.

Jannis dan Kornelis kemudian menambahkan, potensi total OTEC yang dimiliki Indonesia bahkan lebih besar dari jumlah konsumsi listriknya di sepanjang tahun 2019 (255 TWh). Dari keseluruhan area lautannya (sekitar 6 juta km2), Indonesia cuma perlu mengalokasikan 0,4% luasan itu untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik tersebut. Anugerah ini barangkali akan membuat banyak negara di luar sana merasa iri dan hanya bisa gigit jari melihat potensi OTEC yang mereka miliki. Jadi, adakah alasan untuk tetap menutup mata terhadap permata tersembunyi ini?

Seperti yang dijelaskan Lazaros dkk. di literatur pertama, pembangkit listrik berbasis energi fosil maupun energi bersih lainnya pada kenyataannya jauh lebih populer ketimbang teknologi OTEC. Rendahnya efisiensi energi (kurang dari 6%) serta tingginya nilai Levelized Cost of Energy (0,05 sampai 0,45 USD/kWh) menjadi faktor penting yang mengurangi daya saingnya. Selain itu, kemungkinan timbulnya kerusakan ekosistem laut dan area sekitarnya juga tak luput dari perhatian.

Kendati menghadapi beberapa kendala, bukan berarti solusinya tidak dapat ditemukan. Di literatur tersebut, Lazaros dkk. menegaskan bahwa pengaplikasian sistem hibrida mampu menutupi sebagian kekurangan OTEC, belum lagi jika mempertimbangkan aspek keberlanjutan pemroduksian energinya. Walhasil, pendekatan ini memberikan “angin segar” kepada para praktisi dan peneliti untuk mulai mengatur kembali “arah kemudi” pengembangan energi bersih ini.

Selaras dengan uraian barusan, Yassine Rami dan Amine Allouhi mengajukan konsep baru tentang teknologi OTEC hibrida. Rancangan tersebut tertuang dalam artikel 3 E (Energy, Exergy and Economic) multi-objective optimization of a novel solar-assisted ocean thermal energy conversion system for integrated electricity and cooling production (2024). Melalui kajian komprehensif ini, mereka menggabungkan kolektor surya dan mesin pendingin (refrigerator) ke dalam sistem OTEC. Penggabungan ketiga teknologi ini tak hanya mampu memproduksi listrik dengan input energi yang lebih tinggi, tetapi juga menyediakan energi untuk kebutuhan pendinginan. Pada konteks lokal, inovasi ini akan memberikan manfaat kepada kelompok nelayan di Indonesia dalam menjaga kualitas hasil tangkapannya, sehingga meningkatkan nilai jualnya. Bak kata pepatah, “sekali mendayung, dua pulau terlewati.”

 

Antara OTEC dan keanekaragaman energi bersih

Berdasarkan hasil tinjauan literatur terkait potensi teknis OTEC, energi termal laut memang pantas menyandang predikat permata tersembunyi di lautan Indonesia. Dengan bermodalkan “tiket” berupa potensi total OTEC 14.119 TWh/tahun, Indonesia berkesempatan untuk mengambil peran utama dalam pengembangannya di ranah global. Sayangnya, tanpa adanya niat untuk memanfaatkannya lebih lanjut, potensi sebesar itu hanya akan menjadi kumpulan angka belaka. Oleh sebab itu, diperlukan upaya yang serius, mulai dari tahap pengkajian awal hingga pengimplementasiannya.

Pemanfaatan teknologi OTEC sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia dalam meningkatkan bauran energi terbarukan guna mencapai target net zero emission. Diversifikasi atau penganekaragaman energi bersih merupakan langkah strategis untuk mendukung keberhasilan agenda transisi energi. Di samping itu, kehadiran OTEC juga berperan penting dalam mengatasi keterbatasan energi terbarukan lainnya, seperti energi angin yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.

 


Tentang Penulis

Arief Rizqy, seorang mahasiswa pascasarjana teknik mesin di salah satu universitas yang ada di Indonesia. Ia menaruh minat yang besar dalam hal konversi energi, perpindahan panas, termodinamika, dan energi terbarukan. Harapannya untuk perkembangan energi terbarukan di Indonesia ialah tentang pelibatan andil masyarakat lokal dalam agenda transisi energi.

Bagikan halaman ini
Sumber terkait

Berita Terkait

PLTSa Galuga: Transformasi Tumpukan Sampah Menjadi Sumber Energi Terbarukan Bogor Raya Masalah sampah yang selama ini menjadi momok bagi kawasan padat penduduk seperti Bogor Raya kini mulai menemukan jalan keluar strategis. Melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, tumpukan limbah yang dulunya hanya dianggap beban lingkungan kini disulap menjadi sumber energi baru terbarukan. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Sumber Foto: Liputan6.com/Achmad S) Proyek yang menjadi hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bogor dan Pemerintah...
Supriyanto
Pernahkah kamu berpikir, limbah pertanian seperti jerami atau potongan kayu bisa diubah menjadi energi? Proses ini dikenal sebagai pirolisis, yaitu teknik memanaskan bahan organik (biomassa) tanpa oksigen sehingga menghasilkan gas, cairan, dan padatan. Dengan kata lain, sampah organik bisa “disulap” menjadi bahan bakar! 1. Mengapa Pirolisis Biomassa? Kebutuhan energi dunia terus meningkat, sementara cadangan energi fosil semakin menipis dan dampaknya terhadap lingkungan semakin serius. Di tengah tantangan ini, perhatian para ilmuwan beralih ke sumber energi terbarukan seperti biomassa. Biomassa adalah bahan organik yang berasal dari tumbuhan atau hewan, seperti limbah pertanian, kayu, atau sisa makanan. Salah satu metode yang menjanjikan...
Dwita Rahayu Safitri
Industri manufaktur di Indonesia menghadapi tantangan besar dalam hal konsumsi energi yang tinggi dan biaya listrik yang terus meningkat. Pabrik-pabrik besar yang beroperasi selama 24 jam memerlukan sumber energi yang andal, efisien, dan hemat biaya agar tetap kompetitif di pasar global. Dalam hal ini, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap energi fosil serta meningkatkan efisiensi operasional. Dampak Penggunaan Energi Fosil terhadap Industri dan Lingkungan Sektor energi, khususnya pembakaran batu bara, merupakan salah satu penyumbang besar emisi karbon di Indonesia. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada tahun 2015 emisi...

Halo! Melalui REI, kamu bisa belajar, akselerasi karir, dan temukan talenta terbaik di energi terbarukan⚡

Yuk, pilih yang ingin kamu dalami 👇