Dilema Antara Konservasi Alam dan Produksi Energi: Apakah Biomassa Menjadi Batu Bara Baru?

Guest Contributors
Kunjungan

Bioenergi adalah istilah yang sering diperdebatkan karena beragam interpretasinya. Meliputi berbagai metode dan teknologi–seperti pembakaran, gasifikasi, pirolisis, ekstraksi, fermentasi, dan pencernaan anaerob–bioenergi dapat dipahami secara keseluruhan sebagai energi terbarukan yang berasal dari bahan organik yang baru saja hidup.

Kekuatan Biomassa Indonesia

Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang melimpah, termasuk yang terbesar di dunia, yang berasal dari perkebunan kayu dan tanaman penghasil minyak yang luas. Potensi biomassa terbesar terkonsentrasi di Sumatera (Utara, Riau, Selatan), Kalimantan, dan Jawa. Sumber biomassa utama di Indonesia meliputi kelapa sawit, tebu, karet, kelapa, padi, jagung, singkong, kayu, bambu, dan kotoran ternak🌴🍚🧉🌽🐂. Dari semua ini, kepala sawit mendominasi, menawarkan potensi dan pemanfaatan tertinggi (39%), diikuti oleh sekam padi (30%).

Dampak lingkungan dari kelapa sawit 🌴telah menarik perhatian global dalam dekade terakhir, terutama di Eropa, di mana proses produksinya dan efek deforestasi banyak dikritik. Meskipun demikian, kelapa sawit tetap menjadi tanaman yang paling efisien untuk produksi energi, memberikan hasil energi yang tinggi per hektar dengan jejak air yang lebih rendah dibandingkan tanaman bioenergi lainnya. Ini tidak meniadakan masalah lingkungan tetapi menunjukkan bahwa kritik terhadap kelapa sawit mungkin memerlukan perspektif yang lebih bernuansa. Pertanyaan utama, maka, bukan hanya tentang kelapa sawit, tetapi apakah biomassa secara keseluruhan benar-benar merupakan alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan batu bara. Pemerintah Indonesia meyakini bahwa itu benar.

Co-Firing sebagai Pilar Strategi Bioenergi Indonesia

Pemerintah tidak hanya menargetkan bioenergi untuk berkontribusi sekitar 4 GW kapasitas bersih pada tahun 2060,, tetapi juga telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan penggunaan biomassa melalui praktik yang disebut co-firing, di mana biomassa sebagian menggantikan batu bara sebagai bahan bakar di pembangkit listrik. Penyedia listrik milik negara, PLN, mengumumkan pada tahun 2022 bahwa biomassa akan berkontribusi 10% dari pembangkit listrik pada tahun 2050💡, dengan co-firing direncanakan untuk diterapkan di 52 unit. Insentif biomassa melalui co-firing juga secara eksplisit tercantum dalam RUPTL (Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik) terbaru. Pendekatan ini sejalan dengan tujuan Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara🐾, mengurangi emisi, dan memperluas energi terbarukan. Dengan salah satu armada pembangkit batu bara terbesar dan termuda di dunia, Indonesia melihat potensi besar dalam co-firing sebagai teknologi transisi, yang akan membawa negara ini lebih dekat ke masa depan energi yang lebih bersih.

Untuk memenuhi permintaan biomassa domestik di masa depan, Indonesia berencana memberikan subsidi untuk “Hutan Tanaman Energi” (HTE). Topik “biomassa untuk energi” saat ini sedang popular dan disorot dalam pertemuan internasional besar baru-baru ini, termasuk Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB di Cali, Kolombia, dan KTT ASEAN di Laos. Dalam acara tersebut, penelitian terbaru mengangkat kekhawatiran😟 tentang dampak tidak langsung dari produksi listrik dari biomassa.

Kekhawatiran Terhadap Co-Firing

Salah satu kekhawatiran utama adalah deforestasi🌳🪚 (Gambar 1, Gambar 2). Menurut RUPTL terbaru, target co-firing Indonesia akan memerlukan setidaknya 8 juta ton biomassa kayu setiap tahun, namun kapasitas produksi saat ini kurang dari 1 juta ton per tahun. Analisis oleh lembaga think tank energi bersih Trend Asia memperkirakan bahwa untuk memenuhi permintaan ini, dibutuhkan 2,3 juta hektar hutan perkebunan energi—area empat kali ukurannya Pulau Bali.

Pembakaran biomassa 🔥 juga menimbulkan kekhawatiran tentang emisi gas rumah kaca🌏🏭. Pembakaran biomassa menghasilkan tingkat emisi CO2 yang serupa dengan batu bara. Faktor utama dalam jejak ekologisnya adalah sumber biomassa tersebut. Jika biomassa yang digunakan untuk menghasilkan energi benar-benar merupakan bahan limbah, dampak lingkungannya bisa positif. Namun, jika tanaman ditanam secara khusus untuk dibakar guna produksi listrik, manfaat lingkungannya mulai berkurang. Bahkan, ketika memperhitungkan perubahan penggunaan lahan, seperti mengubah hutan menjadi perkebunan, pembakaran biomassa menghasilkan emisi yang lebih tinggi per unit energi yang diproduksi, karena perkebunan dapat menyimpan dan menyerap lebih sedikit karbon dibandingkan hutan alam.

Terakhir, perluasan produksi biomassa juga menimbulkan tantangan sosial👥, termasuk potensi perampasan lahan dan penggusuran masyarakat adat.

A rainforest by the Hung river in North Kalimantan, which borders with the Southern part of PT Malinau Hijau Lestari’s biomass timber plantation. © Nanang Sujana, Mongabay.

Hutan hujan di sepanjang Sungai Hung di Kalimantan Utara, yang berbatasan dengan bagian selatan perkebunan biomassa PT Malinau Hijau Lestari. © Nanang Sujana, Mongabay

 

The same rainforest is being cleared to develop PT Malinau Hijau Lestari’s biomass timber plantation. © Bagus Sugiarto, Auriga Nusantara.

Hutan hujan yang sama dibabat untuk mengembangkan perkebunan biomassa PT Malinau Hijau Lestari. © Bagus Sugiarto, Auriga Nusantara.

Dari limbah menjadi kekayaan ekonomi💰

Tekanan terhadap sumber daya biomassa Indonesia semakin meningkat ketika mempertimbangkan juga permintaan internasional. Dulunya dianggap sebagai “produk limbah,” pelet kayu 🪵 –salah satubahan bakar utama untuk co-firing biomassa–kini telah menjadi komoditas yang menguntungkan. Indonesia mengekspor pelet kayu dalam jumlah besar ke negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan, yang sedang beralih dari batu bara ke biomassa sebagai bagian dari rencana transisi energi mereka.

Hasil Kebijakan yang Tak Terduga

Co-firing menjadi contoh dari “paradoks hijau”—ketika kebijakan lingkungan yang bermaksud baik menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Meskipun bertujuan untuk mendukung energi terbarukan, co-firing berpotensi meningkatkan emisi karbon secara keseluruhan dan memperlambat transisi energi yang sebenarnya. Kebijakan co-firing biomassa Indonesia dapat menawarkan pelajaran berharga bagi negara-negara lain📣, membantu mereka merancang strategi yang lebih efektif untuk energi terbarukan.

Peluang dari Sampah Kota

Di dunia yang berpacu dengan perubahan iklim 🕗, kita harus memprioritaskan solusi yang paling efektif 🏹 dan sudah terbukti. Suatu opsi satu peluang besar untuk biomassa yang sedang dijelajahi di Indonesia adalah produksi energi dari sampah kota. Saat ini, sedang dibangun pembangkit listrik sampah kota di lokasi Tempat Pembungan Sampah (TPA) di 12 kota besar di Indonesia, dan dua (di Surabaya dan Solo) sudah beroperasi. Bentuk energi terbarukan ini tidak hanya menargetkan jenis biomassa yang benar-benar limbah, sehingga mengatasi pengelolaan sampah ♻️, tetapi juga mengurangi pembakaran terbuka dan TPA umum yang menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat setempat.

 


TENTANG PENULIS :

Berasal dari Ticino, wilayah berbahasa Italia di Swiss, Valeria Renna adalah lulusan Ilmu Lingkungan dari ETH Zürich (2022). Setelah memperoleh pengalaman selama 1,5 tahun dalam penilaian dampak lingkungan di daerah pedesaan-pegunungan Swiss, ia bergabung dengan tim proyek Pengembangan Keterampilan Energi Terbarukan (RESD) di Jakarta selama 5 bulan sebagai peneliti.

Bagikan halaman ini
Sumber terkait

Berita Terkait

PLTSa Galuga: Transformasi Tumpukan Sampah Menjadi Sumber Energi Terbarukan Bogor Raya Masalah sampah yang selama ini menjadi momok bagi kawasan padat penduduk seperti Bogor Raya kini mulai menemukan jalan keluar strategis. Melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, tumpukan limbah yang dulunya hanya dianggap beban lingkungan kini disulap menjadi sumber energi baru terbarukan. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Sumber Foto: Liputan6.com/Achmad S) Proyek yang menjadi hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bogor dan Pemerintah...
Supriyanto
Pernahkah kamu berpikir, limbah pertanian seperti jerami atau potongan kayu bisa diubah menjadi energi? Proses ini dikenal sebagai pirolisis, yaitu teknik memanaskan bahan organik (biomassa) tanpa oksigen sehingga menghasilkan gas, cairan, dan padatan. Dengan kata lain, sampah organik bisa “disulap” menjadi bahan bakar! 1. Mengapa Pirolisis Biomassa? Kebutuhan energi dunia terus meningkat, sementara cadangan energi fosil semakin menipis dan dampaknya terhadap lingkungan semakin serius. Di tengah tantangan ini, perhatian para ilmuwan beralih ke sumber energi terbarukan seperti biomassa. Biomassa adalah bahan organik yang berasal dari tumbuhan atau hewan, seperti limbah pertanian, kayu, atau sisa makanan. Salah satu metode yang menjanjikan...
Dwita Rahayu Safitri
Industri manufaktur di Indonesia menghadapi tantangan besar dalam hal konsumsi energi yang tinggi dan biaya listrik yang terus meningkat. Pabrik-pabrik besar yang beroperasi selama 24 jam memerlukan sumber energi yang andal, efisien, dan hemat biaya agar tetap kompetitif di pasar global. Dalam hal ini, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap energi fosil serta meningkatkan efisiensi operasional. Dampak Penggunaan Energi Fosil terhadap Industri dan Lingkungan Sektor energi, khususnya pembakaran batu bara, merupakan salah satu penyumbang besar emisi karbon di Indonesia. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada tahun 2015 emisi...

Halo! Melalui REI, kamu bisa belajar, akselerasi karir, dan temukan talenta terbaik di energi terbarukan⚡

Yuk, pilih yang ingin kamu dalami 👇