Saat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaannya pada 17 Agustus 2024, dunia menyaksikan dengan penuh harap Presiden Jokowi meresmikan Nusantara, ibu kota negara baru di Kalimantan Timur. Proyek ambisius ini, yang siap menjadi tolok ukur global untuk perencanaan kota berkelanjutan, telah menarik perhatian internasional atas komitmennya terhadap inovasi di berbagai sektor. Dirancang dari awal sebagai model keberlanjutan, kecerdasan, ketahanan, dan inklusivitas, Nusantara menawarkan peluang unik bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinannya dalam mengatasi tantangan abad ke-21.
Tujuan ambisius untuk kota berkelanjutan
Visi Nusantara berpusat pada pembangunan ‘hijau’ dan ‘berkelanjutan’, dengan tujuan energi terbarukan yang ambisius bahkan melebihi target nasional. Sementara Indonesia menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 31% pada 2030 dan menargetkan net zero pada 2060, Nusantara berusaha untuk mencapai 80-100% energi bersih dan net zero pada 2045. Mengingat bahwa kawasan ini saat ini didominasi oleh pembangkit listrik tenaga batu bara dan gas, titik awal Nusantara untuk menjadi salah satu kota terhijau di dunia bukanlah sebuah prestasi kecil.
Tenagai Nusantara: potensi energi terbarukan
Dengan proyeksi populasi mencapai 1,5 juta jiwa, Nusantara akan membutuhkan sekitar 1.550 MW listrik, dengan 200 MW pertama sudah dibutuhkan pada 2030. Menurut penelitian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, kebutuhan ini dapat dipenuhi sepenuhnya oleh sumber energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga surya (65%) dan pembangkit listrik tenaga air (26%), serta kontribusi dari tenaga angin, biofuel, dan alternatif terbarukan lainnya. Di Kalimantan Timur saja, potensi energi terbarukan diperkirakan mencapai hingga 20 GW. Namun, teknologi apa yang paling sesuai untuk ibu kota baru ini?
Memanfaatkan matahari dan air
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga surya dan air adalah pilihan yang paling memungkinkan bagi Nusantara, sejalan dengan prospek energi terbarukan yang lebih luas di Indonesia.
Di antara sumber energi yang bersifat intermiten, tenaga surya memiliki potensi yang lebih menjanjikan dibandingkan tenaga angin. Wilayah di sekitar Nusantara relatif datar, dan kecepatan angin rata-rata di Kalimantan Timur rendah (sekitar 4 m/s), menjadikan kawasan ini tidak cocok untuk proyek pembangkit listrik tenaga angin skala besar. Energi surya justru merupakan pilihan yang lebih memungkinkan, terutama jika panel dipasang di bekas lokasi pertambangan, dengan memanfaatkan infrastruktur distribusi dan transportasi listrik yang ada. Untuk meningkatkan sinergi lebih lanjut, proyek tenaga surya juga dapat diprioritaskan pada badan air (pembangkit listrik tenaga surya terapung) dan lahan pertanian.
Untuk pembangkit listrik beban dasar, Nusantara akan bergantung pada pembangkit listrik tenaga air, karena Kalimantan kaya akan sumber daya air: Kalimantan Timur sendiri memiliki 210 sungai yang membentang lebih dari 12.083 km, menawarkan fondasi yang kuat untuk proyek pembangkit listrik tenaga air skala besar dan mikro.
Namun bagaimana dengan situasi saat ini? Proyek apa yang sedang berjalan?
Perkembangan dan tantangan saat ini
Hanya 5 km dari ibu kota, sebuah pembangkit listrik tenaga surya 50 MW (Gambar 1) sedang dikembangkan oleh Nusantara Sembcorp Solar Energy (NSSE), sebuah perusahaan gabungan antara PLN Nusantara Renewable (anak perusahaan PLN) dan Sembcorp dari Singapura. Konstruksi dimulai pada April 2023, dengan 10 MW sudah beroperasi pada Maret 2024. Kapasitas yang tersisa diharapkan selesai pada akhir 2024.

Meskipun tenaga surya tampak lebih menjanjikan dibandingkan tenaga angin di Kalimantan, pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas 70 MW—yang dikenal sebagai proyek Tanah Laut—direncanakan dibangun di bagian selatan pulau tersebut. Saat ini dalam tahap perizinan dan prakonstruksi, diharapkan dapat beroperasi penuh pada akhir tahun 2025.
Selain itu, saat ini sedang dilakukan rencana pembangunan lima bendungan pembangkit listrik tenaga air di sepanjang Sungai Kayan di Kalimantan Utara, yang dapat menghasilkan listrik hingga 9.000 MW. Pembangunannya dijadwalkan dimulai pada 2028 dipimpin oleh PT Kayan Hydro Energy (KHE) yang aktif mencari investor.
Saat ini, satu-satunya produksi energi terbarukan di wilayah tersebut berasal dari pembangkit listrik tenaga surya di dekat ibu kota, dan sisa pembangunannya kemungkinan besar akan tertunda. Tertundanya pembangkit listrik tenaga surya ini bukan satu-satunya kemunduran infrastruktur; beberapa proyek utama belum selesai, sehingga menghambat investasi asing, yang diperkirakan menghabiskan sekitar 80% anggaran kota secara keseluruhan.
Nusantara: Sebuah katalis untuk perubahan
Nusantara telah menjadi titik fokus dari target-target energi yang berani, meskipun belum sepenuhnya tercapai, namun tetap memberikan arah, momentum, standar baru, dan tujuan. Berita tentang ibu kota baru Indonesia telah menyebar secara global, menempatkan negara ini dalam sorotan para pemodal asing. Dengan adanya perhatian dari dunia (dan mungkin investasi), Nusantara mempunyai peluang untuk menjadi katalis bagi transisi energi nasional Indonesia serta mendefinisikan kembali apa yang dapat dicapai oleh kota yang berkelanjutan dan siap menghadapi masa depan.
Tentang Penulis:
Berasal dari Ticino, wilayah berbahasa Italia di Swiss, Valeria Renna adalah lulusan Ilmu Lingkungan dari ETH Zürich (2022). Setelah memperoleh pengalaman selama 1,5 tahun dalam penilaian dampak lingkungan di daerah pedesaan-pegunungan Swiss, ia bergabung dengan tim proyek Pengembangan Keterampilan Energi Terbarukan (RESD) di Jakarta sebagai peneliti.